Senin, 23 Maret 2020

Virus Corona?

Ada apa dengan virus Corona?

(Sumber gambar: kompas.com)

Baikklah, kali ini saya akan membahas tentang virus corona yang sedang ngehits diseluruh dunia ehehe.. Kau tau teman-teman? Virus Corona ternyata telah mengajarkan kita agar kita tidak sombong dan congkak. Iya, iya saya tau bahwa manusia adalah ciptaan Allah SWT yang paling sempurna. Tapi manusia itu terlalu lupa jika hidupnya selalu berdampingan dengan makhluknya Allah lainnya yang sama-sama diberikan rohman dan rohimnya. 

Virus merupakan makhluk peralihan artinya jika virus tidak menempel di sel inang maka ia mati, namun jika menempel pada sel inang, virus tersebut akan hidup dan beregenerasi menjadi bertambah banyak. Virus mempunyai ukuran sekitar 0,1 mikrometer, sedangkan manusia dewasa rata-rata berukuran 1,6 meter. Virus itu merupakan subseluler artinya lebih kecil dari satu sel, sedangkan manusia tubuhnya terdiri hampir 100.000.000.000 sel. Tapi jangan salah teman-teman, virus itu meskipun lebih kecil dari sel tetapi kehebatannya perlu kita acungi jempol. Dengan tubuhnya yang merupakan subseluler, virus mampu mengambil alih kendali mesin sel yang ada di tubuh kita. Dan saat itu, virus akan membuat salinan DNA dan RNAnya dan membuat protein virus di dalam tubuh yang nantinya akan menyalin dirinya sendiri menjadi semakin banyak dan dapat menginfeksi seluruh tubuh yang dihinggapi virus tersebut. 

Lantas apasih virus corona itu? Virus corona adalah sekumpulan virus dari subfamily Orthocoronavirinae masuk dalam keluarga Coronaviridae dan Ordo Nidovirales. Kelompok virus ini adalah kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada burung dan mamalia (termasuk manusia). Virus ini sangat luar biasa sekali, dan wabah yang sekarang terjadi merupakan masalah serius. Virus corona ini adalah virus beramplop dengan genom RNA utas tunggal plus dan nukleokapsid berbentuk heliks simetris. Jumlah genomnya itu berkisar 27-34 pasangan basa, dan ini adalah terbesar diantara virus RNA lainnya. Dan apakah kamu tau? Virus RNA merupakan virus dengan tingkat mutasi lebih tinggi dari virus DNA.

“Tapi vik, semua itu sudah diatur sama Allah. Jadi ya udah sih ngga usah dipikir pusing. Yang penting berdoa aja terus agar Allah selalu melindungi kita.” Oh… kamu itu orang Jabariyah ternyata (menyerahkan total semuanya kepada Allah tanpa usaha). “Hah? Jabariyah? Jabariyah itu apa?” Jadi, Jabariyah adalah aliran yang memiliki paham bahwa kita sebagai manusia harus menerima atas hidup yang sudah ada pada qada’ qadar yang sudah ditulis di lahul Mahfud. Pendiri Jabariyah adalah Jaham bin Shofwan, beliau berpendapat bahwa setiap hidup manusia sudah ditentukan oleh takdir dan manusia terpaksa untuk menerimanya. Manusia hanya bisa menerima keadaan dan tanpa memiliki pilihan ataupun usaha dalam hidupnya. “Kalo aku sih bodoamat vik.. Tetep berpergian kemana aja. Ya, anggep aja liburan mumpung kuliah online ngga tatap muka ahahah” Oh… kamu itu orang Qadariah (free-will) ternyata yah.. "Qadariah apa vik?" Nah jadi Qadariah adalah aliran yang menganggap bahwa manusia mempunyai kemerdekaan dalam kehendak dan perbuatannya tidak melibatkan Allah SWT.

Tolong deh.. ini itu masalah serius. Virus corona ini mudah menulari siapa saja yang dihinggapnya. Untuk menginfeksi, virus corona ini menggunakan lapisan protein berbentuk tanduk yang runcing (spike) guna mengikat membran sel inang dengan mengaktivasi enzim furin. Analisis genom dari SARS-CoV-2 telah mengungkapkan bahwa protein lapisan tanduk yang bisa mengaktivasi furin ini membedakannya dengan kerabat dekat mereka yang memicu SARS ataupun MERS. Masalahnya, furin banyak ditemukan dibanyak jaringan manusia, termasuk paru-paru, hati, dan usus kecil. Dan Li Hua, ahli biologi structural di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong, Wuhan, China berkata “Ini berarti virus corona berpotensi menyerang banyak organ” dengan melihat pernyatan tersebut, maka kita dapat mengerti bahwa virus ini sangat berbahaya untuk tubuh kita. Jadi, jangan sok-sokan kuat, sok-sokan masih muda masih mempunyai system imun yang bagus, jangan sok-sokan hebat. Tapi juga jangan pasrah-pasrah saja anggap semua ini sudah takdir tanpa kita berusaha untuk menekan wabah virus ini.

Seharusnya yang kita lakukan saat ini adalah tetap berusaha menjaga diri agar tidak terpapar virus tersebut dan berdoa agar selalu dilindungi oleh Allah SWT. Yang katanya aswaja harusnya ngerti, Aswaja itu berimbang ditengah-tengah. Doa dan ikhtiar (usaha) berjalan beriringan jangan sampai timpang sebelah. Jangan hanya pasrah-pasrah saja berserah diri pada Allah dan melalaikan berikhtiar (berusaha). Lantas apa saja yang dapat kita lakukan untuk menekan persebaran virus corona tersebut? Menurut WHO (World Health Organization) cara mencegah penularan virus corona adalah dengan menerapkan hidup sehat dan selalu menjaga kebersihan. Diantaranya adalah cuci tangan sesering mungkin, terapkan social distancing, hindari menyentuh mata, hidung dan mulut, dan jika mengalami demam, batuk, dan kesulitan bernapas segeralah berobat. Selain itu, kita juga jangan hanya percaya ikhtiar (usaha) semata sehingga menafikkan pentingnya doa. 

Karna apa? “Kecangihan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan dapat mengetahui hebatnya virus ketika sedang bekerja. Tapi kecanggihan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak dapat mengetahui kedahsyatan doa ketika bekerja” jadi tetaplah berdoa. Ikhtiar (usaha) dan tawakal (berdoa) harus proporsional ya teman-teman, jangan terlalu kepedean. Yang kita hadapi adalah makhluk subseluler yang hanya bisa dilihat menggunakan mikroskrop elektron tapi dapat merenggut nyawa seseorang. Jadi jangan sombong dan congkak sebagai ciptaan Allah yang paling sempurna sejagad raya ini. Tetaplah rendah hati dan jangan lupa bersyukur ehehe

Terimakasih sudah membaca :)
Silahkan komentarnya..

Ditulis oleh: Vika Rachmania Hidayah 🌸

Senin, 27 Januari 2020

Menjadi Guru, Sahabat dan Orangtua

Guru adalah sosok yang mengajarkan banyak hal kepada kita. Tidak dapat dipungkiri, bahwa keberadaan guru sangatlah mempengaruhi diri kita selama bersekolah. Guru yang menyenangkan sangatlah didambakan oleh semua siswa. Sehingga dalam pembelajaran, siswa dapat menerima materi yang diajarkan dengan baik dan dengan kondisi psikologi yang baik pula. Guru harus dapat memposisikan diri menjadi tiga posisi penting dalam kegiatan belajar anak diantaranya adalah sebagai guru, sebagai sahabat dan sebagai orangtua.

Berdasarkan psikososial menurut Heru Kurniwan (2017) ketiga hal tersebut menjadi syarat utama untuk menjadi guru. Syarat tersebut antara lain sebagai berikut:

(1) Dalam proses tumbuh kembangnya, secara psikososial, anak membutuhkan tiga sosok penting yang membantu proses tumbuh kembangnya, yaitu orangtua dalam kehidupan keluarga, sahabat atau teman dalam kehidupan pertemanan dan guru dalam kehidupan di sekolahnya.

(2) Dalam kehidupan sehari-harinya, anak-anak juga akan belajar pada tiga ruang sosial utama, yaitu keluarga, sekolah, dan lingkungan teman. Di ketiga ruang sosial ini, anak-anak sangat membutuhkan dampingan orangtua, guru dan teman-temannya.

(3) Dalam kehidupan budayanya, anak-anak akan selal belajar pola kehidupan budaya dari ketiga ruang sosial itu, yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan pertemanan sebagai ruang budaya untuk proses internalisasi nilai, budaya, dan pola-pola perilaku anak.

Dokumentasi Pribadi

Ketika guru memposisikan diri sebagai guru, maka guru harus mampu melaksanakan tugasnya dalam penyelenggaraan pembelajaran di sekolah dengan kreatif. Guru bisa membuat perencanaan-perencanaan dan persiapan pembelajaran yang kreatif. Guru yang dapat melaksanakan kegiatan penilaian pembelajaran dan dapat berhasil serta sukses dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. 

Pembelajaran idealnya adalah pembelajran menyampaikan materi ilmu pengetahuan yang disesuaikan dengan kehidupan anak yang disampaikan secara komunikatif dan menyenangkan sehingga mampu diperankan oleh anak secara partisipatif dan aktif untuk mencapai ketuntasan belajar yang diinginkan. Dengan dasar ini, maka pembelajaran terkait dengan komunikasi yang intesif antara guru dengan anak yang melibatkan berbagai lingkungan.

Kemudian posisi guru selanjutnya adalah ketika sebagai orangtua. Terdapat istilah yang mengatakan bahwa sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak. Artinya adalah, selain di rumah, di sekolah juga anak-anak harus mendapatkan perlakuan yang baik dari gurunya layaknya orangtua terhadap anaknya. Guru harus memberikan kasih sayang dalam mendidik dan membimbing anak-anak dengan baik.

Guru harus bisa dekat dengan anak-anak sehingga anak-anak sangat menyayangi gurunya, layaknya anak-anak menyayangi oragtuanya. Implikasinya, sosok guru sebagai orangtua akan membawa tugas agar dapat mengembangkan pembelajaran berbasis keluarga. Guru harus mampu menciptakan suasana kekeluargaan dalam pembelajaran. Anak-anak diajar dengan suasana penuh kasih sayang dan bimbingan.  Suasana belajar dikelas harus menyenangkan dan penuh dengan keakraban dan kekeluargaan sehingga anak tidak tertekan dalam melaksanakan proses pembelajaran. Guru dalam posisi sebagai orangtua akan mendasari pembelajarannya dengan kesadaran kasih sayang layaknya orangtua pada anak-anaknya, sehinggadalam proses pembelajaran akan menjadi lebih nyaman dan menyenangkan.

Dokumentasi Pribadi

Posisi yang terakhir dalam pembahasan kali ini adalah sosok guru yang memposisikan diri sebagai sahabat.  Selain dapat berperan menjadi guru dan orangtua, guru juga harus dapat berperan menjadi sahabat bagi anak-anak. Sebab, konteks pertemanan dan persahabatan inilah anak-anak akan terbuka dalam mengekspresikan keinginan, hobi, kesenangan, bakat, sampai pada persoalan yang sedang dihadapinya. Oleh karena itu, guru harusmengetahuinya sehingga guru bisa berperan aktif dalam mengatasi persoalan yang dihadapi anak atau guru mampu mengembangkan bakat dan minat yang menjadi hobi anak-anak. 

Pendekatan persahabatan, dapat menjalin komunikasi yang baik dan interaksi yang nyaman dalam belajar. Anak-anak nantinya akan lebih antusias jika guru tersebut mempunyai hubungan yang baik dan dekat dengan mereka. Sehingga meraka akan bersungguh-sungguh dalam belajar untuk membuktikan bahwa dirinya adalah sahabat yang baik dan pintar untuk gurunya.

Dengan penjabaran diatas maka dapat kita ketahui bahwa peran guru sangatlah penting untuk tumbuh kembang anak dalam proses pembelajaran di sekolah. Sebaik-baiknya guru adalah guru yang dapat memposisikan dirinya dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, nyaman, komunikatif dan berkarakter.

Artikel ditulis oleh: Vika Rachmania Hidayah
Referensi: Kurniawan,Heru. 2017. Sekolah Kreatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Jumat, 24 Januari 2020

Perempuan Muslim Progresif?

Ditulis Oleh: Vika Rachmania Hidayah

“Kecantikan yang abadi terletak pada keelokan adab dan ketinggian ilmu seseorang. Bukan terletak pada wajah dan pakaiannya” (Buya Hamka)

Berkaitan dengan perkembangan zaman, masyarakat sekarang membutuhkan peran  perempuan dalam segala aspek, pendidikan, sosial ekonomi, hukum, politik, dan lainlain. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh tuntutan bangsa-bangsa atas nama masyarakat global bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan bagaimana bangsa tersebut peduli dan memberi akses yang luas bagi perempuan untuk beraktifitas di ranah publik. Perempuan merupakan sosok istimewa dari pada laki-laki. 

Menurut Imam Khomaeni ra, menyatakan bahwa “Perempuan adalah eksistensi yang mampu menghaturkan pribadi-pribadi yang unggul kepada masyarakat, sehingga masyarakat tersebut menjadi sebuah masyarakat yang kokoh dan masyarakat yang menjunjung norma-norma agama…” Isu-isu mengenai kiprah perempuan di ranah publik nampaknya tidak pernah absen dalam perbincangan. Hal ini dikarenakan pandangan masyarakat terhadap perempuan merupakan warga kelas dua atau pelengkap laki-laki sehingga kiprahnya di ranah publik masih kerap kali dipandang sebelah mata. Perempuan dalam panggung sejarah manusia, selalu diposisikan minor dan dipandang negatif oleh struktur budaya, praktek, dan peradaban. Hanya sedikit masyarakat di belahan dunia ini yang memberikan ruang yang baik bagi perempuan. Dominasi laki-laki terhadap perempuan adalah realitas yang hidup dalam hampir setiap elemen masyarakat.

Ide-ide normatif Islam membawa nilai-nilai keadilan dan kesetaraan bagi laki-laki dan perempuan, tetapi pada realitasnya atau praktek dilapangan sering menunjukan hal yang sebaliknya. Agama sering kali tampil dalam pandangan dunia laki-laki dengan meletakkan perempuan sebagai objek. Pemaksaan syari’at Islam terhadap perempuan sering ditemukan pada masyarakat Islam yang ‘extrem kanan’. Kebanyakan dari mereka tidak diberi kesempatan untuk menyuarakan hak-haknya, bahkan yang menyangkut persoalan mereka sendiri. Padahal dalam masa Nabi Muhammad SAW -yang merupakan masa ideal Islam- perempuan mempunyai ruang lebih dalam menunjukkan keterlibatan dalam dunia sosialnya. Mereka terlibat aktif dalam memformulasikan nilai-nilai agama. Tak ada kaidah-kaidah agama, terutama yang berhubungan dengan mereka yang ‘jadi’ tanpa dialog dengan mereka. Di masa tabi’in dan tabi-tabi’in, peneliti Islam kotemporer menemukan banyak fakta tercecer tentang beberapa ilmuwan perempuan yang menjadi guru bagi pendiri mazhab besar dalam Islam. Rumah mereka telah menjadi sumber bagi perkembangan tradisi keilmuan Islam saat itu. Sejarah juga tak bisa memungkiri kecemerlangan beberapa ratu dalam pemerintahan Islam abad pertengahan.

Bagaimana caranya mejadi perempuan muslim yang progresif? Apa saja ciri-ciri perempuan muslim progresif itu? Dalam jurnal eL-Tarbawi yang berjudul “Pemikiran dan Gerakan Muslim Progresif” Noor (2006: 150-151) menjelaskan beberapa karakteristik menonjol  yang dapat dimiliki oleh muslim progresif diantaranya: 1) Mereka mengadopsi pandangan bahwa beberapa bidang Islam tradisional membutuhkan perubahan dan reformasi substansial dalam rangka menyesuai kan dengan kebutuhan masyarakat muslim saat ini. 2) Mereka cenderung mendukung akan perlunya fresh ijtihad (pemikiran yang segar) dan metodologi baru dalam ijtihad untuk menjawab permasalahan-permasalahan kontemporer. 3) Beberapa di antara mereka juga mengkombinasikan atau mengintegrasikan secara kreatif warisan kesarjanaan Islam tradisional dengan pemikiran Barat modern. 4) Mereka secara penuh optimis dan teguh berkeyakinan bahwa dinamika dan perubahan sosial, baik pada ranah intelektual, moral, hukum, ekonomi atau teknologi, dapat direfleksikan dalam Islam. 5) Mereka tidak merasa terikat pada dogmatisme atau mazhab dan teologi tertentu dalam pendekatan kajiannya. 6) Mereka lebih meletakkan titik tekan pemikirannya pada berbagai isu keadilan sosial, keadilan gender, HAM dan relasi yang harmonis antara Muslim dan non-Muslim.

Islam membutuhkan muslim yang berwawasan luas dan muslim yang mempunyai kedalaman pengetahuan. Bukan hanya sebatas muslim yang menonjolkan simbol-simbol namun tumpul kedalam. Islam membutuhkan muslim yang progresif adanya muslim yang progresif  bertujuan untuk merumuskan islam yang dapat menjadi referensi dasar bagi terciptanya masyarakat berkeadilan yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, meratanya nuansa kerahmatan dan kebijaksanaan, serta terwujudnya kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Dengan kata lain kehadiran Islam Progresif merupakan suatu rumusan baru Islam yang sesuai dengan kehidupan demokrasi. Di dalam pemikiran Islam seperti ini semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama dan memperoleh perlakuan yang adil, kaum minoritas dilindungi dan dijamin hak-haknya secara setara.

Oleh karena itu, transformasi Islam dalam pandangan Islam Progresif adalah identik dengan sosial kemanusiaan Islam dan Demokrasi, selain akan mengantarkan  Islam dapat diterima oleh semua kalangan, juga kompatibel dengan kehidupan demokrasi. Dengan demikian nalar  pembentukan Islam Progresif berperspektif demokrasi, pluralisme, dan HAM. Menurut Turabi (1956) dalam bukunya yang berjudul “Yusr al-Islam wa Usul at-Tasri’ al-Am” Islam sekarang ini harus mengakomodasi dan mencerminkan kesetaraan, keadilan, kemanusiaan, dan menjamin kemaslahatan. Berpangkal tolak dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa prinsip-prinsip dasar Islam perlu mengapresiasi pluralisme (ta’addudiyah), nasionalitas (muwatanah), penegakan HAM ((iqamat al-huquq alinsaniyah), demokrasi (dimuqratiyah), kemaslahatan (maslahat), dan kesetaraan gender (al-musawah al-jinsiyah). Sedangkan alur penafsiran ajaran Islam seperti ini adalah Alquran & al-Hadis, kemaslahatan, maqasid al-syari’ah, dan akal publik. 

Perempuan adalah pilar sebuah bangsa, kata-kata tersebut selayaknya harus diperjuangkan untuk menjunjung eksistensi perempuan sebagai makhluk yang istimewa. Oleh karena itu, sudah sepatutnya menjadi perempuan muslim yang progresif dengan terjun ke masyarakat untuk ikut andil dalam masyarakat dengan menyuarakan kemanusiaan dan keadilan.

Referensi:
Yusdani. 2015. Pemikiran dan Gerakan Muslim Progresif. Jurnal eL-Tarbawi. Volume VIII 
No. 2. UII
Turabi, Hasan.1956. Yusr al-Islam wa Usul at-Tasri’ al-Am. Kairo: Mathba’ah Nahdah Mishr.

Selasa, 14 Januari 2020

Gunung Budheg (Wisata Alam)

Gunung Budheg
Tulungagung

Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020

Hallo semuanya..

Kali ini aku akan menceritakan perjalananku menuju puncak gunung Budheg. Gunung Budheg merupakan tempat wisata ke 6 yang berhasil aku sambangi selama aku berkunjung ke Tulungagung. Gunung Budheg ini berlokasi di Desa Tanggung, Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung. Tingginya hanya 585 mdpl. Meskipun tidak terlalu tinggi, medan untuk mencapai puncaknya sangatlah terjal dan menantang adrenalin. Pada saat itu aku naik ke Gunung Budheg sekitar pukul 17.00 WIB. 

Saat aku mulai naik menelesuri jalur pendakian, aku sudah pesimis untuk dapat mencapai ke puncak. Jalanya yang dipenuhi dengan batu-batu besar sehingga membuat tenaga terkuras lebih banyak dari biasanya. Menurut beberapa orang yang sudah mendaki gunung ini, mereka butuh waktu 30 menit sampai 1 jam untuk mencapai puncak gunung ini. Namun saat aku mendaki gunung tersebut, aku hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk mencapai puncaknya. Mungkin jam yang aku gunain berhenti beberapa menit sehingga aku terlihat sangat cepat untuk mencapai puncak Gunung Budheg hehe.. 

Konon menurut cerita legenda rakyat disana, Gunung Budheg merupakan tempat pertapaan seorang jejaka yang bernama Joko Budeg. Cerita ini bermula dari Joko Budeg yang jatuh cinta kepada putri keturunan keluarga Ningrat yang bernama Roro Kembangsore. Perbedaan status sosial menjadikan Joko Budeg mengalami kesulitan untuk mendapatkan Roro Kembangsore. Tetapi dengan kegigihan Joko Budeg lambat laun Roro Kembangsore pun menerima lamaran dari Joko Budeg. Roro Kembangsore mau menerima lamaran Joko Budeg dengan persyaratan apabila Joko Budeg bersedia bertapa 40 hari 40 malam di sebuah bukit, beralaskan batu dan memakai tutup kepala “cikrak” (alat untuk membuang sampah di Tulungagung) sambil menghadap ke Lautan Kidul. 

Singkat cerita setelah sudah 40 hari 40 malam Roro Kembangsore menemui Joko Budeg ditempat pertapaannya. Merasa iba ketika melihatnya, Roro Kembangsore membangunkan Joko Budeg dari pertapaanya tetapi tidak bergerak sama sekali. Saat itu Roro Kembangsore merasa jengkel dan keluarlah kata-kata yang cukup keras “ditangikke kok mung jegideg wae, koyo watu” jika dibahasa indonesiakan “dibangunkan kok diam saja seperti batu” seketika muncullah fenomena alam dan mengubah Joko Budeg menjadi batu. Dengan peristiwa tersebut maka bukit yang digunakan untuk bertapa Joko Budeg dinamakan “Gunung Budheg”. 

Mendengar cerita tersebut logikaku tidak bisa menerima. Bagaimana bisa manusia menjadi batu dalam wakti segejap? Akal nalarku tidak bisa menangkap dan menerima kisah tersebut. Sehingga aku hanya bisa percaya meskipun tidak dapat meyakini kebenaran kisah tersebut. Tetapi cerita hanyalah cerita. Kisah hanyalah kisah yang didalamnya pasti mempunyai makna bahwa ketika kita mencintai seseorang ataupun menginginkan sesuatu kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkannya. 

Beralih ke kata Budheg, menurut penuturan Bapak Agus yang merupakan pengelola dan pendiri wisata Gunung Budheg ini menuturkan bahwa kata Budheg mempunyai filosofi tersendiri. Budheg dapat diartikan sebagai “Budi kang Ajeg” atau jika dibahasa Indonesiakan berarti “Kebaikan yang Berdiri Tegak”. Pa Agus juga menuturkan bahwa seseorang dikatakan berbudi ketika sesorang tersebut berbudaya dan berilmu. Seseorang tersebut akan teguh dengan pendiriannya tanpa mendengarkan celaan atau hujatan dari orang-orang sekitarnya.

Pemandangan ketika dilihat dari atas (3/4 dari puncak Gunung Budheg) Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020

Tidak dapat dipungkiri pemandangan yang sajikan oleh Gunung Budheg sagatlah indah. Ketika diatas puncak Gunung Budheg kita bisa melihat panorama 360 derajat Kota Tulungaggung. Saat aku mendaki gunung ini, cuaca sedang tidak mendukung sehingga aku tidak dapat menikmati ndahnya sunset. Minimnya logistic yang aku bawa membuat aku harus sesegera mungkin turun ke bawah sebelum gelap menyapa. Aku turun pukul 17.50 tepat sekali adzan maghrib. Entah kenapa perjalanan yang dilalui olehku terlihat lebih cepat dari pendakian pada umumnya. Tetapi itu tidak ku permasalahkan, bahkan aku bersyukur karena perjalanan ini sungguh menyenangkan dan tanpa membuat kakiku pegal sedikitpun. Setelah sampai dibawah, aku sesegera membersihkan sepatuku yang berlumur lumpur dan sesegera wudhu dan mencari surau atau langgar. Namun, karena minimnya penerangan ditempat wisata Gunung Budheg, akupun menunaikan sholat maghrib di gazebo tempat yang biasa digunakan untuk anak-anak muda Pokdarwis mengadakan perkumpulan.

Tak bosan-bosan aku menawarkan kepada kalian untuk segera merasakan dan menikmati sendiri indahnya dan sensasi ketika mendaki di Gunung Budheg. Selamat berwisata gaess..

Ditulis Oleh : Vika Rachmania Hidayah

Minggu, 12 Januari 2020

Peninggalan Candi Boyolangu

Pandarmaan Gayatri
Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020

Hallo semuanya….

Terimakasih untuk kamu yang masih setia membaca tulisanku ini hehehe….

Kali ini aku akan membahas tentang Candi Boyolangu. Tempat ini adalah tempat ke 5 yang sempat disambangi saat aku menjelajahi Tulungaggung.

Kesan awal menginjakan kaki ditempat ini adalah suasanya yang sepi dan senyap karena mungkin saat aku berkunjung adalah jam-jam istirahat sehingga suasananya begitu tentrem. Namun didepan candi terdapat rumah besar yang ternyata digunakan untuk tempat konveksi sehingga membuat suasana senyap itu pecah seketika diganti suara mesin konveksi yang sedang bekerja. Ketika ingin memasuki kawasan candi ini, ternyata pagar terkunci menandakan bahwa aku sedang tidak beruntung saat itu. Tapi tak masalah bagiku, karena dari luar sudah dapat diamati situs Candi Boyolangu yang katanya sebagai pendarmaan Gayatri.

Candi Boyolangu ini berada di Dusun Dadapan, Desa Boyolangu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Menurut beberapa sumber, candi ini ditemukan oleh masyarakat pada tahun 1914 dalam timbunan tanah. Candi Boyolangu ini merupakan kompleks percandian yang terdiri dari tiga bangunan perwara. Masing-masing bangunannya menghadap ke barat. Candi Boyolangu ini saat ditemukan, kondisi arca sudah rusak meskipun masih terlihat baik tetapi bagian kepala dari arca ini sudah hilang. Para ahli mengemukakan bahwa arca ini adalah wanita Budha yang biasa dikenal dengan nama Gayatri. Gayatri merupakan satu dari keempat anak raja kertanegara (Singosari) yang kemudian diwakili Raden Wijaya (Majapahit). Pada masa hidupnya, Gayatri dikenal sebagai pendeta wanita Budha (Bhiksumi) kerajaan Majapahit dengan gelar Rajapadmi.

Ketika diamati dari pintu masuk yang terkunci
(Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020)

Candi Boyolangu ini dibangun pada Zaman Majapahit masa pemerintaha Raja Hayam Wuruk (1358 M s.d 1389 M). Bentuk arca ini menggambarkan perwujudan Dhyani Budha Wairocana dengan duduk diatas padmasanan (singgasana) berhias daun teratai. Sikap tangan arca adalah Dharmacakramudra (mengajar). Badan arca dan singgasananya tertata halus dengan gaya Majapahit. Dalam kitab Kesustraan Negarakertagama karangan Mpu Prapanca (masa Majapahit pemerintahan Raja Hayam Wuruk) sudah dijelaskan  bahwa di Boyolangu terdapat bangunan suci (candi) beragama Budha dengan nama Prajnaparamitapuri.

Kemudian apa yang melatar belakangi candi ini dibangun? Anganku mulai liar dan ingin mencari informasi lebih dalam tentang Candi Boyolangu ini. Jadi pada masa Indonesia kuno, candi dikenal sebagai tempat pemujaan, tempat raja/penguasa yang telah meninggal dimanifestasikan sebagai arca perwujudan yang sekaligus dijadikan sarana pemujaan masyarakat pendukungnya. Sehingga dapat diartikan bahwa tempat tersebut selain berfungsi sebagai tempat pemujaan juga sebagai tempat penyimpanan abu jenazah raja/penguasa. Konon katanya Candi Boyolangu merupakan tempat keramat yang di sekar para pembesar Majapahit setiap bulan Badrapada. Nah, dengan demikian sudah digambarkan jelas bahwa Gayatri merupakan sosok yang berpengaruh sehingga sampai akhir hayatnya selalu dikenang dan dihormati oleh para pembesar Majapahit dan pengikut-pengikutnya.

Aku pun mulai berfikir jika demikian benar adanya, berarti Gayatri merupakan sosok peempuan luar biasa kan? Sebelum adanya gerakan kesetaraan gender bahkan gerakan feminism adanya sosok gayatri sudah menggambarkan bahwa perempuan mempunyai kedudukan yang dapat diagungkan jika memang perempuan tersebut mumpuni. Buat apa kita menuntut kesetaraan gender jika kita saja sebagai perempuan tidak mempunyai tekad untuk meningkatkan kualitas diri? Dari sini akupun dapat mengerti bahwa seseorang dapat di “orang” kan ketika dia memang mempunyai peran yang besar dalam masyarakatnya tidak memperdulikan apakah dia laki-laki ataupun perempuan. Kemudian untuk dapat berperan kita harus seperti apa? pastinya selalu mengasah keterampilan, memperbanyak wawasan pengetahuan dan pastinya dari Gayatri akupun belajar bahwa kita harus selalu taat dan bakti pada yang menciptakan kita. Gayatri merupakan pendeta Budha yang sangat religius. Semuanya terlihat berjalan selaras antara jiwa dan ruhanninya. Sehingga pantas saja jika Gayatri merupakan sosok perempuan yang sangat agung dan dihormati.

Meskipun aku kecewa tidak dapat melihat arca Gayatri secara dekat dan detail, setidaknya aku dapat melihat sosoknya yang luar biasa pada kehidupan masa kerajaan Majapahit. Aura Gayatri begitu kental dan kentara menggambarkan bahwa sosok Gayatri sangatlah cantik dan cerdas. Untuk kamu yang penasaran sangat aku sarankan untuk mengunjungi Candi Boyolangu ini. Hehehe

Terimakasih sudah membaca.
Nantikan perjalananku selanjutnya yahhh

Ditulis Oleh: Vika Rachmania Hidayah

Untuk Informasi lebih lengkapnya bisa dibaca di https://tulungagung.go.id 

Peninggalan Candi Sanggrahan

Candi Sanggrahan
Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020 
Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020

Candi Sanggrahan merupakan tempat ke 4 pengembaraanku di Tulungagung. Nah jadituh, Candi Sanggarahan berada di dusun Sanggrahan, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungaggung. Candi ini berbahan batu andesit dan biasa dikenal juga dengan nama candi Cungkup. Candi ini menghadap kearah barat. Candi ini sangat apik dan menarik mataku untuk mengelilinginya. Bagian bawah candi terdapat relief aneka hewan seperti singa dan serigala. Namun pada bagaian atas candi tidak terdapat relief sama sekali. 

Dalam papan keterangan Candi Sanggrahan dipaparkan bahwa secara umum kompleks Candi Sanggrahan berdiri atas sebuah bangunan induk dan dua buah sisi bangunan perwara. Bangunan induk menggunakan batuan andesit dengan isian bata. Bangunan candi ini terdiri atas empat tingkat yang masing-masing berdenah bujursangkar. Bangunan Candi Sanggrahan berada pada teras/undakan setinggi kurang lebih 2 meter. Menurut beberapa sumber, dahulu terdapat lima buah arca Budha yang masing-masing memiliki posisi mudra yang berbeda. Letak arca tersebut di timur bangunan induk. Namun, demi keamanan arca tersebut maka dipindahlah arca itu ke museum Wajakensis Tulungaggung.

Berdasarkan temuan arcanya yang bersifat Budha dan relief yang bersifat Hindu, diduga Candi Sanggrahan merupakan candi yang bernafaskan Siwa-Budha loh... Sinkretisme Siwa-Budha di Jawa mulai berkembang pada masa Singhasari hingga masa Majapahit. Menurut N.J. Krom (1923) dalam tulisannya, disebutkan bahwa Candi Sanggrahan untuk pertama kali dilaporkan oleh J. Knebel (1908) terutama mengenai penemuan arca Dyani Budha. Candi Sanggrahan kini tampak rapi dan tertata karena telah selesai dipugar sejak 2015 hingga 2016. Selain itu juga ditambahi beberapa batu untuk melengkapi struktur candi agar dapat terlihat apik. Wah, pantas saja saat aku berkunjung bangunannya sudah apik dan halaman sekitar candi sudah terawat dengan baik. Meskipun saat memaski wilayah candinya, terlihat gapura yang berbahan batu merah dengan kondisi buruk tetapi tidak mempengaruhi keelokan bentuk Candi Sanggrahan ini.

Lantas yang menjadi pertanyaannya adalah dulu tuh Candi Sanggrahan ini dibangun untuk apasih? Pasti kan segala sesuatu ada terdapat alasan yang kuat kan? Jadi menurut para ahli sejarah, Candi sanggrahan dibangun sebagai tempat peristirahatan rombongan pembawa abu pendeta wanita Budha Kerajaan Majapahit bernama Gayatri yang bergelar Rajapadni. Abu itu nantinya akan dibawa dari kraton Majapahit untuk menjalani upacara pendarmaan di Candi Boyolangun. Candi Sanggrahan dibangun pada jaman Majapahit masa Raja Hayam Wuruk (1359 – 1389 M).

Bagi kalian yang gemar travelling sambil belajar, tempat ini cocok sekali untuk disambangi. Lokasinya sangat strategis karena terletak di samping jalan utama Desa. Tempat ini juga sangat apik sebagai background fotomu hehe..

Ditulis Oleh: Vika Rachmania Hidayah

Referensi
Sendyawati E., dkk. 2013. Candi Indonesia: Seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Direktorat Jendral Kebudayaan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Tangga Seribu (Wisata Religi)

Padepokan Hyang Agung Gusti Wisnu Petir

Dokumentasi Pribadi Pada 7 Januari 2020

Gapura yang bertuliskan “Padepokan Hyang Agung Gusti Wisnu Petir” menarik mataku dan hasratku ingin melihat dan berkunjung kesana. Tempat ini terletak di Dusun Mojo, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Gapura ini merupakan pintu masuk menuju tangga seribu. Tangga seribu ini awalnya merupakan jalan masuk menuju makam Eyang Tjokro. Tetapi keberadaan makam tersebut sangat jarang diketahui oleh khalayak. Meskipun banyak yang tidak mengetahui keberadaan makan dari Eyang Tjokro atau Eyang Agung Cokrokusumo (Eyang Wisnu Petir), tempat ini merupakan tempat wisata religi yang sering dikunjungi peziarah. Eyang Wisnu Petir merupakan Mbah Guru Wali Pangeran Benowo, buyut dari Mudndzir + KH. Dimyathi Khaossun, R.M Garendi atau Syekh Zainal Abidin (Sunan Kuning) dan Syaikh Basyaruddin bin Syaikh Abdurrahman. Menurut beberapa sumber, makam ini ditemukan sekitar tahun 1501 M. Berdasarkan hasil penelitian peneliti dari Yogyakarta, menerangkan bahwa Eyang Cokrokusumo adalah salah satu pandherek Pangeran Diponegoro yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah tersebut. Hal ini di dalasari dengan adanya batu nisan yang dipakai di makam.

Selain digunakan untuk menuju ke makam, pemuda desa wajak yang tergabung di Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) tempat ini diubah menjadi sangat apik dan dapat digunakan sebagai tempat wisata untuk masyarakat khususnya pemuda dan anak-anak. Tempat ini sering digunakan untuk jogging atau hanya sebatas jalan-jalan menikmati alam yang masih asri.  Disamping itu, tangga ini juga dapat digunakan sebagai akses menuju Candi Dadi. Sangat disayangkan, saat aku berkunjung kesana cuaca sedang tidak bersahabat. Sehingga, belum diberi kesempatan untuk berziarah ke Makam Eyang Wisnu Petir ataupun mengunjungi Candi Dadi.

Untuk dapat berkunjung ke tempat ini, cukuplah mudah. Karena tempatnya yang strategis berada di pinggir jalan raya. Gapuranya sangat mencolok dengan bertuliskan aksara jawa dengan arti “Padepokan Hyang Agung Gusti Wisnu Petir” serta dilengkapi dengan ornamen baru batu yang menyerupai bentuk naga. Bentuknya yang unik dan apik sangat menarik untuk digunakan bersua foto bersama teman dan kerabat.

Ditulis Oleh: Vika Rachmania Hidayah

Referensi
Suhananto, Anto, dkk. 1995. Wajak dan Perubahan Serta dan Kebudayaan. Karya Tulis Tidak Diterbitkan. Tulungaggung-jawaTimur

Pendidikan Indonesia dalam Penguatan Nilai-Nilai Pancasila

Pendidikan telah menjadi bagian hidup dari setiap orang yang memiliki kedudukan penting. Dalam hal ini mengacu pada kepentingan bagaimana m...