Minggu, 12 Januari 2020

Peninggalan Candi Sanggrahan

Candi Sanggrahan
Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020 
Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020

Candi Sanggrahan merupakan tempat ke 4 pengembaraanku di Tulungagung. Nah jadituh, Candi Sanggarahan berada di dusun Sanggrahan, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, kabupaten Tulungaggung. Candi ini berbahan batu andesit dan biasa dikenal juga dengan nama candi Cungkup. Candi ini menghadap kearah barat. Candi ini sangat apik dan menarik mataku untuk mengelilinginya. Bagian bawah candi terdapat relief aneka hewan seperti singa dan serigala. Namun pada bagaian atas candi tidak terdapat relief sama sekali. 

Dalam papan keterangan Candi Sanggrahan dipaparkan bahwa secara umum kompleks Candi Sanggrahan berdiri atas sebuah bangunan induk dan dua buah sisi bangunan perwara. Bangunan induk menggunakan batuan andesit dengan isian bata. Bangunan candi ini terdiri atas empat tingkat yang masing-masing berdenah bujursangkar. Bangunan Candi Sanggrahan berada pada teras/undakan setinggi kurang lebih 2 meter. Menurut beberapa sumber, dahulu terdapat lima buah arca Budha yang masing-masing memiliki posisi mudra yang berbeda. Letak arca tersebut di timur bangunan induk. Namun, demi keamanan arca tersebut maka dipindahlah arca itu ke museum Wajakensis Tulungaggung.

Berdasarkan temuan arcanya yang bersifat Budha dan relief yang bersifat Hindu, diduga Candi Sanggrahan merupakan candi yang bernafaskan Siwa-Budha loh... Sinkretisme Siwa-Budha di Jawa mulai berkembang pada masa Singhasari hingga masa Majapahit. Menurut N.J. Krom (1923) dalam tulisannya, disebutkan bahwa Candi Sanggrahan untuk pertama kali dilaporkan oleh J. Knebel (1908) terutama mengenai penemuan arca Dyani Budha. Candi Sanggrahan kini tampak rapi dan tertata karena telah selesai dipugar sejak 2015 hingga 2016. Selain itu juga ditambahi beberapa batu untuk melengkapi struktur candi agar dapat terlihat apik. Wah, pantas saja saat aku berkunjung bangunannya sudah apik dan halaman sekitar candi sudah terawat dengan baik. Meskipun saat memaski wilayah candinya, terlihat gapura yang berbahan batu merah dengan kondisi buruk tetapi tidak mempengaruhi keelokan bentuk Candi Sanggrahan ini.

Lantas yang menjadi pertanyaannya adalah dulu tuh Candi Sanggrahan ini dibangun untuk apasih? Pasti kan segala sesuatu ada terdapat alasan yang kuat kan? Jadi menurut para ahli sejarah, Candi sanggrahan dibangun sebagai tempat peristirahatan rombongan pembawa abu pendeta wanita Budha Kerajaan Majapahit bernama Gayatri yang bergelar Rajapadni. Abu itu nantinya akan dibawa dari kraton Majapahit untuk menjalani upacara pendarmaan di Candi Boyolangun. Candi Sanggrahan dibangun pada jaman Majapahit masa Raja Hayam Wuruk (1359 – 1389 M).

Bagi kalian yang gemar travelling sambil belajar, tempat ini cocok sekali untuk disambangi. Lokasinya sangat strategis karena terletak di samping jalan utama Desa. Tempat ini juga sangat apik sebagai background fotomu hehe..

Ditulis Oleh: Vika Rachmania Hidayah

Referensi
Sendyawati E., dkk. 2013. Candi Indonesia: Seri Jawa. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Direktorat Jendral Kebudayaan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Tangga Seribu (Wisata Religi)

Padepokan Hyang Agung Gusti Wisnu Petir

Dokumentasi Pribadi Pada 7 Januari 2020

Gapura yang bertuliskan “Padepokan Hyang Agung Gusti Wisnu Petir” menarik mataku dan hasratku ingin melihat dan berkunjung kesana. Tempat ini terletak di Dusun Mojo, Desa Wajak Kidul, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Gapura ini merupakan pintu masuk menuju tangga seribu. Tangga seribu ini awalnya merupakan jalan masuk menuju makam Eyang Tjokro. Tetapi keberadaan makam tersebut sangat jarang diketahui oleh khalayak. Meskipun banyak yang tidak mengetahui keberadaan makan dari Eyang Tjokro atau Eyang Agung Cokrokusumo (Eyang Wisnu Petir), tempat ini merupakan tempat wisata religi yang sering dikunjungi peziarah. Eyang Wisnu Petir merupakan Mbah Guru Wali Pangeran Benowo, buyut dari Mudndzir + KH. Dimyathi Khaossun, R.M Garendi atau Syekh Zainal Abidin (Sunan Kuning) dan Syaikh Basyaruddin bin Syaikh Abdurrahman. Menurut beberapa sumber, makam ini ditemukan sekitar tahun 1501 M. Berdasarkan hasil penelitian peneliti dari Yogyakarta, menerangkan bahwa Eyang Cokrokusumo adalah salah satu pandherek Pangeran Diponegoro yang diutus untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah tersebut. Hal ini di dalasari dengan adanya batu nisan yang dipakai di makam.

Selain digunakan untuk menuju ke makam, pemuda desa wajak yang tergabung di Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) tempat ini diubah menjadi sangat apik dan dapat digunakan sebagai tempat wisata untuk masyarakat khususnya pemuda dan anak-anak. Tempat ini sering digunakan untuk jogging atau hanya sebatas jalan-jalan menikmati alam yang masih asri.  Disamping itu, tangga ini juga dapat digunakan sebagai akses menuju Candi Dadi. Sangat disayangkan, saat aku berkunjung kesana cuaca sedang tidak bersahabat. Sehingga, belum diberi kesempatan untuk berziarah ke Makam Eyang Wisnu Petir ataupun mengunjungi Candi Dadi.

Untuk dapat berkunjung ke tempat ini, cukuplah mudah. Karena tempatnya yang strategis berada di pinggir jalan raya. Gapuranya sangat mencolok dengan bertuliskan aksara jawa dengan arti “Padepokan Hyang Agung Gusti Wisnu Petir” serta dilengkapi dengan ornamen baru batu yang menyerupai bentuk naga. Bentuknya yang unik dan apik sangat menarik untuk digunakan bersua foto bersama teman dan kerabat.

Ditulis Oleh: Vika Rachmania Hidayah

Referensi
Suhananto, Anto, dkk. 1995. Wajak dan Perubahan Serta dan Kebudayaan. Karya Tulis Tidak Diterbitkan. Tulungaggung-jawaTimur

Cagar Budaya (Goa Pasir)

Goa Pasir
Halo semuanya…
Kali ini aku akan membahas tentang tempat yang aku kunjungi saat berada di Kabupaten Tulugagung setelah Candi Mirigambar. 

Apa yang terlintas dipikiran teman-teman tentang Goa? Kemudian apa yang terlintas dipikiran teman-teman tentang Pasir? Nah selanjutnya adalah apa yang terlintas dipiran teman-teman tentang Goa Pasir? Mungkin ada yang berfikiran Goa yang berada di dekat lautan sehingga berpasir. Atau mungkin Goa yang beralaskan pasir atau juga Goa yang dipenuhi dengan pasir.

Tidak masalah jika kalian semua menebaknya begitu hehe… Sebelum mengenal lebih jauh tentang apa itu Goa Pasir? Aku akan memberikan informasi bahwa Goa Pasir ini terletak di Dusun pasir. Nah lebih tepatnya adalah Dusun Pasir, Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Goa Pasir ini adalah goa buatan yang dibuat dengan melubangi lereng bukit. Tempat goa Pasir di lereng yang cukup terjal sehingga untuk dapat melihatnya kita harus naik keatas melewati batu-batu yang besar. Saat aku berkunjung kesana, terlihat sekali banyak pohon besar dengan suasana yang singit dan magis. Tempatnya sangat tenang dan tentrem, sehingga ketika sudah berada diatas fikiran serasa lebih segar karena kita dapat melihat pemandangan yang sangat indah.

Lokasi Goa Pasir 
(Gambar diambil di jejakpiknik.com)

Bertempat di lereng yang terjal
(Dokumentasi Pribadi pada 7 Januari 2020)

Menurut papan informasi yang terpampang sebelum masuk ke kawasan Goa Pasir, Goa Pasir ini merupakan kompleks cagar budaya yang berada di lereng gunung Padha. Goa ini dipahatkan pada lereng terjal bukit. Bagian dalam goa tersebut terdapat relief dengan Arjunawiwaha (Adegan penggodaan terhadap Arjuna dan pengikutnya oleh Bidadari). Beberapa ahli berpendapat bahwa Goa ini adalah pertapaan yang digunakan oleh Gayatri (Rajapadni), nenek dari Hayam Wuruk yang meninggal pada tahun 1350 M yang kemudian abu jenazahnya disemayamkan di Candi Boyolangu.

Menurut Drs. M Dwi Cahyono, M.Hum dalam bukunya yang berjudul Tabuta (tapak Budaya tulungagung) juga sudah dijelaskan bahwa Goa Pasir atau biasa dinamakan Situs Karsyan dengan bentuk bangun landam kuda serta tinggalan arkeologi yang berupa goa pertapaan. Dalam buku Tabuta juga dijelaskan bahwa sesuai dengan sebutannya yaitu “Situs Goa Pasir” dan fungsinya sebagai pertapaan yaitu dengan banyaknya temuan lain yang tersebar di area goa serta sebagian yang tertimbun tanah. Temuan ini sangat selaras  dengan esoteric dari Hindu sekte Siwa Shidanta.

Di area goa terdapat arca-arca batu andesit. Namun untuk saat ini hanya tersisa tinggal dua buah arca penjaga pintu (dwara pala) berbeda ukuran dan detail bentuknya, fragmen arca Ganesa (gajah) yang dapat diketahui bahwa ini merupakan peninggalan masa kerajaan Majapahit.  Hal ini juga diperkuat oleh catatan peneliti Belanda N. J. krom dan Verbeek bahwa di situs Goa Pasir pernah ditemukan arca bati yang dipahat penanda angka saka 1325 (1403 M) dan 1224 S (1302 M) tahun 1302-1403 M yang berarti dari masa Majapahit.

Di bawah kompleks Goa Pasir terdapat bongkahan batuan yang ditatah membentuk panil-panil gambar binatang dan tokoh wanita, yaitu binatang kera dalam posisi menari dan binatang Gajah. Bongkahan ini menggambarkan sebuah fabel, cerita dengan Jakon binatang dan dianggap sebagai media untuk membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan sifat baik dan buruk. Selain itu terdapat pula bongkahan batu yang dipahat sehingga menghasilkan gambaran Dwarapala pada sebuah sisi, dan relief perahu pada sisi lainnya.

Relief-relief yang ada di cagar budaya Goa Pasir ini sudah banyak yang rusak karena ulah tangan-tangan pengunjung yang tidak bertangung jawab. Dan mirisnya, tempat ini sering dijadikan tempat pacaran untuk para pemuda dikarenakan tempatnya yang adem dan rindang serta sepi atau jauh dari keramaian. Jika kita menelaah lebih jauh sebelum jaman sekarang, tempat ini merupakan tempat yang suci, tempat keramat yang biasa digunakan untuk pertapaan. Pertapaan merupakan tempat bertapa atau tempat untuk mengasingkan diri dari keramaian dunia dengan menahan hawa nafsu (makan, minum, tidur, dan birahi) untuk mencari ketenangan batin.  Dengan demikian, Goa Pasir saat ini sangat kontradiktif penggunaanya antara zaman dahulu dan zaman sekarang. Sangat miris bukan?

Memang perlu adanya penanganan yang serius agar tempat ini dapat digunakan menjadi tempat edukasi yang interaktif untuk siswa dalam belajar tentang sejarah. Karena sejarah merupakan ilmu yang menarik dan tidak pernah habisnya ketika dipelajari. Dan akan terus berkembang jika ditemukanlah arca-arca atau artefak-artefak serta peninggalan-peninggalan yang lain.

Ditulis Oleh: Vika Rachmania Hidayah

Sabtu, 11 Januari 2020

Peninggalan Candi Mirigambar

Candi Mirigambar
(Dokumentasi pribadi pada 7 Januari 2020)

Oke Sahabatku…

Kali ini aku akan membahas tentang peninggalan-peninggalan candi yang ada di Jawa Timur khususnya di Kabupaten Tulungagung. Nah, sebenarnya candi itu apasih? Kenapa harus ada candi? Bagaimana sejarah dibuatkannya candi? 

Jadituh, Candi adalah bangunan yang memiliki bentuk arsitektur dan struktur sebuah bangunan yang berasal dari kerajaan hindu ataupun budha. Candi juga identik dengan suatu kisah dari sebuah kerajaan dan latar belakang dari pembangunan candi tersebut.  Jaman dahulu, candi berfungsi sebagai tempat pemujaan dan pendarmaan seorang raja.

Nah saat aku main ke Kabupaten Tulungagung, aku diberi kesempatan untuk berkunjung ke Candi Mirigambar. Candi Mirigambar ini terletak di Desa Mirigambar kecamatan Sumbergempol Kabupaten Tulungagung. Berdasarkan arsip Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan, Sejarah candi ini dapat diketahui dari adanya angka tahun yang dipahat. Pahatan angka tahun ini adadua buah namun sayangnya pahatan ini sudah cacat dari sejak jaman Belanda. Namun masih bisa diketahui bahwa angka tahun yang pertama di pahatkan pada dinding kaki candi sisi timur memuat angka tahun 1321 saka (1399 M), sedangkan yang kedua terletak tidak berjauhan yaitu disebelah barat candi dengan angka tahun 1310 saka (1388 M). Konon, dulu juga pernah ditemukan prasasti tembaga yang isinya menceritakan tentang pergantian kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Hayam Wuruk. Prasasti ini ditemukan tidak jauh dari candi Mirigambar. Dari data-data tersebut dapat diketahui bahwa candi Mirigambar merupakan peninggalan zaman Majapahit.

Pada saat saya mengunjungi candi ini, terlihat kondisi candi yang sudah tidak utuh dengan relief yang sudah banyak yang hilang. Candi ini berbahan bangunan batu bata merah dengan berbagai relief berbentuk hewan-hewan. Berdasarkan data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tulungagung menyatakan bahwa keistimewaan dari candi ini adalah candinya tunggal dan dibangun dari bahan bata merah dan berpintu masuk disisi barat dengan tampak pada batu-batu yang berbentuk persegi berserta sebuah undakan pada sisinya dan dipenuhi dengan ornament. Pada sisi utara, timur dan selatan terdapat relief dan disudut tenggara yang kedua sisinya terdapat ornament dengan melukiskan seekor burung garuda. Panjang ukuran candi 8,50 meter lebar 7,70 meter dan tinggi 2,35 meter. 

Menurut literatur, candi ini merupakan awal era kerajaan majapahit samapai akhir kerjaan majapahit. Dan diperkirakan pada masa peralihan Raja Hayam Wuruk kepada Raja Wikramawardhana. Candi Mirigambar sendiri merupakan tempat pemujaan yang bercorak Hindu. Arsitektur candi Mirigambar mempunyai ciri khas dari Kerajaan Majapahit yang ditunjukan dari relief yang terpahat pada dinding candi. Terdapat relief yang menceritakan kisah Tantri atau Tantri Kamandaka (adegan burung bangau, ikan dan kepiting). Maria J. Klokke arkeolog Belanda (1990) juga menjelaskan bahwa terdapat tiga panel relief dinding II yang menggambarkan adegan hewan; burung bangau, ikan dan kepiting. Menurutnya dalam The Tantri Relief on Ancient Javanese Candi, adegan itu merupakan adegan yang berasal dari cerita Tantri Kamandaka. (Tersedia di: http://historia.id/kuno/cerita-panji-di-candi-iri-gambar)

Namun terdapat juga beberapa versi cerita diantaranya adalah versi dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga (DISPARPORA) menjelaskan bahwa ukiran relief pada dinding Candi Mirigambar merupakan kisah dari Angkling dharma. Sedangkan menurut Lidya Keaven dalam bukunya yang berjudul “Bertopi Pada Relief Candi Zaman Kuno Majapahit” menyebutkan bahwa relief pada candi Mirigambar adalah menceritakan tentang penyamaran “Panji Waseng Sari” yang berperang dengan Raja Magadha karena saat itu Raja Magadha menginginkan Putri Galuh Candra kirana untuk dinikahinya.

Namun, apapun cerita pada masa lalunya candi Mirigambar perlu mendapatkan penangan dan pemberdayaan yang serius oleh pemerintah. Karena candi Mirigambar merupakan peninggalan sejarah yang tidak bisa dihilangkan. Perlu adanya reklamasi kembali agar candi ini dapat digunakan sebagai wisata edukasi yang menarik untuk pelajar. 

Ditulis Oleh: Vika Rachmania Hidayah

Referensi;
Zuhry, Wildan. 2018. Studi tentang Candi Mirigambar di Tulungagung. Jurnal Simki-Pedagogia. Vol 02 No. 04. Universitas Nusantara PGRI Kediri 

Sabtu, 19 Januari 2019

Wanita atau Perempuan?


Hari ini aku akan sedikit bercerita apa yang ada di otakku. Sekedar bercerita apa yang bisa diceritakan kepada kalian semua. Ya ini bukan tentang masalah percintaan yang indah ataupun sendu bahkan ini bukan masalah lingkungan yang semakin hari semakin miris. Ini cuma sebatas istilah kata yang sering diperdebatkan oleh teman-teman aktivis kampus yang sering membahas tentang gender apalagi feminisme.

Ini hanya bahasan yang ringan menurutku jadi kalian yang mau membaca tulisan ini tidak dianjurkan untuk meminum kopi untuk menyanggah rasa kantuk karena membaca bacaan yang berat dan kata yang kaku, apalagi dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti sehingga terkesan  membosankan. Kali ini aku ingin mengajak kalian semua untuk berbincang dengan istilah "Wanita" dan "Perempuan". Sejak SMA aku sudah mengenal tentang materi gender yang membahas tentang kesetaraan peran antara laki-laki dan wanita. Namun, setelah beranjak kuliah ada istilah yang selalu diperdebatkan oleh aktivis gender dan feminis tentang istilah perempuan dan wanita. Aku kira itu hanyalah istilah yang menunjukan jenis kelamin dari seorang perempuan/wanita. Namun ternyata setelah aku baca-baca dan bertanya-tanya kepada mereka yang lebih suka menyebut dirinya Perempuan dari pada wanita, membuat aku mengerti dan mencoba menelusuri apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun aku hanya orang awam yang dalam segi keilmuan sangat cetek dan belum mahir apa-apa, tetapi disini aku mengajak kalian semua untuk dapat mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi kenapa bisa demikian adanya.

Menurut Asmah Haji Omar (1993) Bahasa merupakan cerminan pemikiran dan budaya sebuah masyarakat. Bahasa merupakan kemampuan yang dimiliki oleh manusia untuk mengkomunikasikan suatu hal dengan manusia lain. Lantas jika kamu diminta untuk memilih bahasa apa yang akan kamu gunakan untuk menunjukan diri kalian sendiri sebagai perempuankah? atau wanita? Maaf disini aku akan berbincang tentang gender ini. Jika ada yang tidak suka lebih baik jangan diteruskan membacanya.

Dalam bahasa Arab (majma'al - lughah al- 'Arabiyyah, 2004) al- untha, al-mar'ah dan al- nisaa mempunyai makna perempuan/wanita. Perkataan al- untha jamaknya al-inath berarti perempuan atau wanita yang memiliki makna lembut dan tidak keras. Al-mar'ah jamaknya adalah al-nisa yang artinya sedap dan enak. Sedangkan kata al-nisa artinya berkait rapat dengan al-niswa dan al-nuswan yang berati lupa karena kelemahan akal. Perempuan atau wanita memiliki makna yang sama yaitu memiliki sifat yang lemah lembut, elok atau enak di pandang serta kelemahan akal atau biasa disebut kurang berfikir secara logika karena lebih mengutamakan perasaannya. Di makna ini tidak ada yang membedakan antara perempuan dan wanita karena hakikat dari sifatnya sama.

Dalam bahasa Melayu "wanita" berarti yang diinginkan, sesuatu yang diinginkan lelaki. Sehingga wanita disini hanya sebatas objek untuk laki-laki saja. Wanita dalam bahasa Jawa juga bermakna 'Wani di Toto' atau berani diatur. Dengan kata lain wanita harus selalu tunduk dengan suami dan dilarang keras untuk melawan laki-laki. Dalam Jawa memandang wanita itu mulia apabila ia tunduk dan patuh terhadap suaminya. Hal ini dikatakan wanita dinilai lebih tinggi karena kesetiaannya dengan patuh terhadap suaminya.

Lantas kalau wanita dianggap mulia dengan kesetiaannya karena patuh terhadap suaminya bagaimana dengan Perempuan? Kenapa para aktivis gender dan feminis sangat menolak sebutan wanita untuk dirinya?

Dalam jurnal FSU in the limelight karya Sudarwi & D. Jupriono yang berjudul "Betina,wanita, perempuan: Telaah semantik leksikal, semantik Historis, Pragmatis," Menyebutkan bahwa kata "Wanita" bukan lah produk asli. Kata ini melainkan turunan dari kata betina akibat proses perubahan konsonan. Betina ~ Batina ~ Banita ~ [B] : [W] ~ Wanita. Dengan proses ini menjadikan para aktivis gender dan feminisme membuat pernyataan bahwa kata "wanita" adalah kata yang sangat rendah apabila dijadikan sebagai sebutan oleh kaum hawa. Betina merupakan sebutan untuk hewan berkelamin perempuan yang bisanya hanya beranak saja tanpa mempunyai peranan penting dalam kehidupannya.

Setelah kita membahas kata "wanita" kita juga akan membahas kata "Perempuan". Dalam kamus dewan e.4 Kuala Lumpur, Keperempuanan berarti perihal perempuan yang bermaksud mengurusi urusan rumah tangga dan keistrian. Dalam hal ini, meski tidak terlalu rendah pemgertiannya, tetapi jelas bahwa kata ini menunjuk peranan domestik perempuan sebagai penunggu rumah.

Dalam Kamus Besar Indonesia keperempuanan juga berarti kehormatan sebagai perempuan dari aspek etimologinya, Perkataan Perempuan berasal dari kata 'empu' yang berarti tuan, orang yang mahir/berkuasa, kepala, hulu, atau yang paling besar. Kata perempuan dipandang mempunyai nilai yang cukup tinggi, tidak dibawah, tetapi sejajar bahkan lebih tinggi dari pada lelaki. Kata perempuan juga berhubungan dengan kata 'ampu' yaitu sokong, memerintah, penyangga, penjaga keselamatan bahkan dapat diartikan wali.

Melihat penjabaran diatas pantas saja jika para aktivis gender dan feminis lebih suka dengan sebutan perempuan daripada sebutan wanita. Bagi mereka sebutan Perempuan adalah sebutan terhormat yang diberikan karena peranan perempuan yang cukup besar. Namun ada sebagian orang yang beranggapan bahwa sebutan perempuan adalah sebutan untuk wanita remaja yang masih dalam proses tumbuh kembang. Sedangkan kata "wanita" ditujukan untuk mereka perempuan yang sudah beranjak dewasa dan akan melangsungkan proses pernikahan sebagai bentuk kemuliaan perempuan yang akan berumah tangga.

Kalau menurutku jika kalian membahas tentang peranannya maka sebut saja dengan kata "Perempuan". Jika kalian membahas kemuliaannya maka sebut saja dengan "Wanita". Yang aku herankan, kenapa sih hanya sebatas istilah saja tetapi sering dibuat untuk bahan perdebatan antara aktivis perempuan dengan aktivis laki-laki. Terkadang aku bingung dengan perdebatkan dengan membahas istilah ini yang sampai berlarut-larut. Lantas kenapa tidak ada perdebatan kata "laki-laki" dan kata "pria" ? Padahal hakikatnya sama dengan perdebatan istilah "wanita" dan "perempuan". Ahh sudahlah... Meskipun aku sebenarnya malas untuk membahas perempuan. Karena aku merasa kalo di bahas terus menerus bukankan malah menjadikan perempuan sebagai objek bahasan?  Apakah tidak ada bahasan lain selain bahas perempuan?  Apa harus perempuan yang menjadi bahan pembahasan? Terkadang pertanyaan itu selalu muncul dalam benakku sendiri. Meskipun aku selalu ingin tau tentang gender dan feminisme itu sendiri sih hehe..

Ditulis oleh : Vika Rachmania Hidayah 

Daftar Pustaka
Asmah Haji Omar. 1993. Bahasa dan Alam Pemikiran Melayu. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka
Majma'al-Lughah Al - 'Arabiyyah. 2004. Al- mu'ja al- wasit c.4, kaherah : Maktabah al-syuruq
Noresah Baharom et. al (eds). 2005. Kamus Dewan e.4. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka
Sudarwi & D. Jupriono. 1997. Betina, Wanita, Perempuan : Telaah Semantik Leksikal, Semantik Historis, Pragmatis." Jurnal FSU in the limelight. Vol 5 no 1. Surabaya : Universitas 17 Agustus 1945
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2008. KBI. Jakarta : Pusat Bahasa

Rabu, 14 November 2018

Nihilnya Respon Terhadap Perubahan Iklim

Bumi merupakan tempat hidup manusia. Tak ada tempat hidup lain sesempurna bumi. Meskipun beberapa kali astronot mencari planet-planet lain yang bisa untuk ditempat tinggali namun sejatinya hal itu tak pernah ditemukan. Bumi menyediakan tanah yang subur agar manusia bisa ercocok tanam. Bumi menyediakan lautan yang begitu biru untuk kehidupan hewan laut. Bumi menyediakan berjuta-juta tumbuhan untuk menyuplai oksigen bagi makhluk hidup heterorof seperti manusia. Sungguh luar biasa bumi ini yang telah diciptakan Allah SWT. Dengan ciptaan yang sudah sempurna ini tentunya tidak perlu ada beribu-ribu hal lain untuk memberikan suatu perubahan agar tambah baik.

Lambat laun berjalannya waktu terasa bumi ini tak seperti dulu lagi. Memang manusia selalu melakukan hal untuk tujuan kemajuan bangsa dan sebagainya. Namun perlu dicermati apakah yang dilakukannya itu memberikan efek samping atau tidak. Jika memang  menimbulkan efek samping  tentunya hal itu tidak perlu dilakukan karena akan memberikan hal buruk pada bumi ini dan salah satunya adalah perubahan iklim. Perubahan iklim menjadi permasalahan yang begitu sering Rengsangan atau stimulus  akan langsung diterima oleh sistem saraf tepi lalu diolah oleh sistem syaraf pusat dan dibawa lagi oleh sistem syaraf tepi motorik menuju otak untuk membuat manusia itu merespon keadaan. 

Namun yang menjadi pertanyaan adalah respon apa yang akan diberikan. Bagi diabaikan. Padahal jika dicermati perubahan iklim ini secara langsung dirasakan oleh manusia. kebanyakan orang pasti hanya akan mengeluh tanpa da suatu tindakan apapun. Bagi para orang-orang kaya, pejabat, bahkan para pemimpin kebanyakan akan lalai dengan hal ini karena dengan kekayaan atau jabatan mereka hal kenyamanan pasti tak perlu diragukan lagi, mereka dalam kesehariannya tak merasakan kepanasan. Tentunya semua ini menjadi PR kita bersama.

Perubahan iklim yang terjadi ini umumnya ditandai oleh beberapa hal diantaranya adalah perubahan temperatur rerata harian dan pola curah hujan. Salah satu bukti terjadinya perubahan temperatur daerah indonesia yang cukup signifikan adalah adanya konfirmasi tentang melelehnya es di puncak Jayawijaya (kompas.com). Tidak hanya itu, peningkatan temperatur rerata harian juga berpengaruh sangat signifikan terhadap pola curah hujan yang umumnya ditentukan oleh sirkulasi monsun Asia dan Australia. Hal ain yang diakibatkan juga adalah kekeringan dan banjir ekstrem yang mana akan berimbas pada sektor pertanian dan kelautan yang menjadi  mayoritas pekerjaan masyarakat di Indonesia.

Menjaga alam adalah tugas manusia sebagai khalifah di bumi. Banyak manfaat yang didapatkan ketika manusia menjaga alam. Alam yang sehat manusianya juga akan sehat. Begitupun sebaliknya, jika alamnya rusak manusianya juga akan rusak, karena manusia selalu berinteraksi dengan alam. Maka dari itu penting untuk menjaga alam. Memang sejatinya manusialah yang melakukan kerusakan di alam ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 41 dan 42, yang artinya adalah
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (41)
“Katakanlah (Muhammad), bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (42)


Dibutuhkan solusi sesegera mungkin untuk mengatasi masalah perubahan iklim ini supaya alam ini tetap terjaga. Dimulai dulu dari yang paling sederhan yakni dari diri sendiri yakni bisa dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan menanam tanaman sebanyak mungkin terutama di tempat-tempat yang gersang. Hal yang lebih besar bisa dilakukan melelui kegiatan organisasi, instansi, atau komunitas yang bekerja sama dengan perusahaan dan pemerintah. Bila hal ini dapat terlaksana dengan baik tidak menutup kemungkinan akan ditiru orang lain sehingga akan banyak orang yang melakukan hal baik ini.

Sabtu, 10 November 2018

Luka Bumiku

Kau tau? Luka apa yang semakin hari semakin membuat menderita? Kau tau luka itu disebabkan oleh siapa? Kau tau luka ini tak bisa disembuhkan? Apakah kau sadar itu? Atau mungkin bahkan kau tak tau siapa yang terluka? Apakah matamu buta? Apakah telingamu tuli? Atau kau hatinya mati hingga kau tak punya perasaan?

(Sumber: Twitter @Galangkertaluck) 

Lihatlah wahai kau sang pahlawan. Bumi kita sedang terluka, atmosfer kita tercabik-cabik. Semua penyebabnya adalah kamu yang mengaku pahlawan hari ini. Iklim sudah berubah karena kegiatan para manusia yang menganggap dirinya pahlawan. Apa kau tau masalah ini dimulai sejak kapan? Yang katanya revolusi industri membuat kemajuan peradaban, tapi nyatanya? Setelah terjadi revolusi industri 250 tahun yang lalu, emisi gas rumah kaca semakin meningkat dan menyebabkan selubung gas rumah kaca di atmosfer dengan laju peningkatan yang sangat signifikan. Dengan adanya kegiatan tersebut apakah kau sadar kalau ada perubahan paling besar pada komposisi atmosfer selama 650.000 tahun? Hal ini di nyatakan pada United Nations Framework Convention on Climate Change ("Bahwa terjadi perubahan paling besar pada komposisi atmosfer selama 650.000 tahun").

Iklim global ini akan terus mengalami pemanasan dengan laju yang cepat dalam dekade-dekade yang akan datang, kecuali jika kau melakukan usaha untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer. Mengenai emisi gas rumah kaca, apakah kau tau sumber penyebabnya? Sumber tunggal penyebab gas rumah kaca dari aktifitas manusia adalah bahan bakar fosil yang dibentuk dari jasad tumbuhan dan hewan yang telah mati. Kau yang katanya pahlawan tapi nyatanya kau juga yang merusak bumi Pertiwi ini. Kau juga yang ikut berkontribusi merusak selimut yang melindungi bumi ini. Kau juga yang ikut berperan mencabik-cabiknya hingga terluka parah dan sulit bahkan tak dapat disembuhkan. Apakah kau tau? Gas bumi, minyak, dan batu bara apabila dibakar ia akan melepaskan milyaran ton karbon ke atmosfer setiap tahunnya. Serta metana dan nitrous oksida pun menyumbangkan dalam jumlah yang besar. Kau sadar tidak? Pohon-pohon yang kau tebangi dan tidak kau tanam lagi menyebabkan karbon dioksida banyak dilepaskan ke atmosfer. Selain itu, limbah kotoran ternak pun ternyata telah mengemisikan metana. Wahai kau yang katanya pahlawan! Yang sedang asik duduk dibawah pendingin ruangan. Apakah kau sadar? Benda kecil itu terdapat CFC, HFC, dan PFC yang merupakan gas berbahaya jika gas tersebut berada di atmosfer.

Pemanasan yang terjadi pada sistem iklim bumi merupakan hal yang jelas terasa, seiring dengan banyaknya bukti dari pengamatan kenaikan temperatur udara dan laut, pencairan salju dan es di berbagai tempat di dunia, dan naiknya permukaan laut global.
"Cluster Change 2007"
Intergovernmental Panel on Climate Change

Lihatlah! Betapa banyak dampak yang harus kita terima akibat semua ini? Temperatur yang semakin hari semakin tinggi akan mendatangkan resiko terjadinya bencana yang cukup besar. Kau sadar tidak? Kenaikan temperatur juga telah mempercepat siklus hidrologi, akibatnya perubahan ini menurunkan kualitas dan kuantitas air. Selain itu resiko kesehatan semakin meningkat, muka laut semakin naik dan yang lebih tragis adalah kaum paling rentan semakin sengsara. Masyarakat yang paling miskin akan menjadi yang paling rentan terhadap dampak dari adanya perubahan iklim, karena mereka akan sulit untuk melakukan usaha untuk mencegah dan mengatasi dampak dari perubahan iklim dengan kurangnya kemampuan.

Beberapa komunitas yang paling rentan adalah buruh tani, suku-suku asli dan orang-orang yang tinggal di tepi pantai.Pada perubahan iklim, tidak ada satupun solusi tunggal yang dapat mengatasinya. IPCC pun menyimpulkan bahwa tidak ada satupun solusi Tunggal dari sektor ekonomi dan sektor teknologi yang feasible dan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor-sektor lainnya. Lantas apa yang akan kau lakukan wahai para pahlawan masa kini?

"Tidak semua luka dapat disembuhkan. Jika memang luka itu dapat disembuhkan tetap saja luka itu akan meninggalkan bekas yang akan selalu ada."

Ditulis oleh : Vika Rachmania Hidayah

Pendidikan Indonesia dalam Penguatan Nilai-Nilai Pancasila

Pendidikan telah menjadi bagian hidup dari setiap orang yang memiliki kedudukan penting. Dalam hal ini mengacu pada kepentingan bagaimana m...